Senin, 26 Januari 2026
Menjadi seorang Muslimah adalah kesadaran strategis yang
harus ditempuh dengan segala tanggung jawab dan bukan menjadi beban, tetapi
tanggung jawab karena Allah yang memerintahkan. Kesadaran itu menuntut
langkah-langkah yang terukur mulai dari mengatur waktu, menata niat, dan
menyelaraskan tujuan hidup dengan perintah Allah.
Ketika setiap perbuatan dilandasi oleh niat karena Allah,
tidak ada satu pun yang sia-sia semuanya menjadi amal yang bernilai ketika
energi yang kita keluarkan adalah ketaatan. Itulah rahasia produktivitas yang
berkelanjutan yaitu dengan melakukan hal sederhana secara konsisten.
Untuk merealisasikannya dibutuhkan kesabaran yang menjadi
penopang utama dalam perjalanan, dengan sabar kita belajar mengelola emosi dan
tetap konsisten menjalankan kewajiban saat lelah datang. Ada
hari-hari di mana bangun pagi terasa berat, pikiran penuh, dan hati seakan
kehilangan semangat. Di saat seperti ini, kembalilah pada hal-hal yang
sederhana seperti memperbaiki niat, merapikan pikiran, dan menguatkan hubungan
dengan Allah.
Menjadi Muslimah Produktif juga berarti memberi ruang untuk
diri tumbuh dengan mencari ilmu, memperbaiki diri, dan berkontribusi bagi
keluarga serta masyarakat. Produktivitas yang sejati bukan hanya soal hasil,
tapi juga tentang kebermanfaatan karena “Sebaik-baik manusia adalah yang
paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. (HR Ath-Thabari) ini adalah bukti
nyata bahwa hidup kita tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk memberi
manfaat kepada orang lain.
Rabu, 07 Januari 2026
Saya sering bertemu situasi dimana pembeli
merasa sedang bermain harga menawar sampai sekecil-kecilnya tanpa
memikirkan bagaimana itu berdampak pada penjual. Atau datang ke sebuah kafe
bawa makanan dari luar, lalu setelah selesai makan, meninggalkan bungkusnya di
meja tanpa sadar bahwa itu merepotkan staf. Dari pengalaman pribadi dan obrolan
dengan beberapa penjual kecil, saya ingin membagikan pandangan santai tapi
serius tentang etika konsumen — bagaimana kita bisa jadi pembeli yang
cerdas sekaligus beretika.
Kenapa etika konsumen penting?
Konsumen punya hak, tapi juga punya
kewajiban. Di Indonesia, undang-undang dan badan perlindungan konsumen
menegaskan adanya hak dan kewajiban ini jadi konsumsi bukan semata hak tanpa
tanggung jawab. Beberapa
prinsip etika konsumen yang bisa sama-sama kita ulas:
- Sopan ketika menawar, menawar itu wajar sebab itu
bagian dari interaksi pasar. Tapi tujuan menawar bukan menekan keuntungan
penjual sampai tidak masuk akal. Menawar sebaiknya bertujuan menyesuaikan
budget dengan nilai barang, bukan merendahkan penghidupan penjual. Alangkah baiknya tawarlah dengan sopan, jangan menghina, dan
perhatikan reaksi penjual bila penjual tampak keberatan, hentikan negosiasi itu
lebih baik.
-
Deal adalah komitmen, jangan ghosting jika kamu sudah
menawar dan penjual setuju, perlakukan itu sebagai janji. Jika akhirnya batal,
kabari penjual secepatnya. Menunggu tanpa kabar itu merugikan waktu dan usaha
mereka mempersiapkan barang, menahan pembeli lain, dsb. Banyak komunitas
jual-beli online juga menyebutkan etika ini sebagai hal dasar agar transaksi
berjalan sehat.
-
Hormati ruang usaha (kafe/rumah makan), membawa
makanan dari luar ke kafe atau restoran yang menjual makanan biasanya dianggap
tidak etis terutama jika kita tetap memakai meja dan layanan mereka tanpa
berkontribusi secara layak. Bila ada alasan kesehatan atau diet khusus,
komunikasikan ke staf beberapa tempat memberi pengecualian. Tapi secara umum,
kalau mau nongkrong lama, belilah sesuatu dari tempat tersebut atau tanyakan
kebijakan mereka.
-
Buang sampah pada tempatnya, Kalau memang terpaksa
membawa sesuatu dari luar misal, makanan anak pastikan sampahmu dibawa pulang
atau dibuang di tempat yang semestinya jangan meninggalkan sampah di meja
mereka. Itu soal menghargai tenaga kerja dan kebersihan tempat usaha.
- Jangan manfaatkan rating/ulasan untuk memeras, ada kasus di mana pembeli sengaja memberi rating buruk untuk memaksa pengembalian dana atau diskon. Etika konsumen berarti memberi ulasan jujur berdasarkan pengalaman bukan alat pemerasan. Hal ini berpotensi merusak kepercayaan pasar.
Kalau kita tarik ke kehidupan sehari-hari, etika konsumen itu sebenarnya sederhana dan sangat manusiawi. Saat menawar misalnya, kita bisa memulainya dari angka yang masih masuk akal sambil menyampaikan alasan singkat dengan nada yang ramah entah karena keterbatasan budget atau kondisi barang yang kita pertimbangkan. Menawar tidak harus terasa seperti adu kekuatan, tapi lebih sebagai percakapan untuk mencari titik temu yang adil bagi kedua belah pihak. Ketika sudah terjadi kesepakatan, sebaiknya kita menepati komitmen itu dengan mengonfirmasi waktu pengambilan atau pengiriman, dan segera memberi kabar jika ada perubahan rencana. Hal-hal kecil seperti ini sangat berarti bagi penjual karena menyangkut waktu dan penghasilan mereka.
Hal kecil lain yang sering luput dari perhatian kita adalah soal merapikan meja. Memang, ini bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita sebagai konsumen. Namun, alangkah baiknya jika kita bisa sedikit memudahkan urusan orang lain dengan merapikan meja sebelum pergi. Saya, Insya Allah, akan terus berusaha konsisten setiap kali selesai makan merapikan piring, menumpuknya dengan rapi, lalu menyeka meja dengan tisu. Sekilas memang tampak remeh, tetapi gerakan kecil ini sering kali membuat pelayan tersenyum dan memudahkan mereka membersihkan meja dengan lebih cepat. Bagi saya, inilah bentuk penghargaan sederhana atas pekerjaan mereka dan lewat kebiasaan kecil ini pula, saya ingin mengajak kita semua untuk lebih peka karena hal-hal kecil bisa jadi terasa berarti besar bagi orang lain.
Mari jadi konsumen yang etis, bukan
soal selalu membayar harga penuh atau tidak pernah menawar. Ini soal menghormati
manusia di balik transaksi penjual yang mencari nafkah, pelayan yang
menjaga kebersihan, dan komunitas pasar yang bergantung pada kepercayaan
bersama. Kita bisa hemat tanpa harus merendahkan orang lain kita bisa pintar
tanpa harus menjadi tidak adil. Pada akhirnya, semua ini kembali pada satu hal “memperlakukan
orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan”.
Kamis, 01 Januari 2026
Dalam beberapa tahun terakhir dunia
kuliner berubah cepat misalnya, Coffee Shop tidak lagi hanya sekadar tempat
jualan kopi atau gorengan namun bergeser menjadi ruang sosial tempat nge-work,
ngobrol, bertemu teman, atau sekadar mencari suasana. Akibatnya, pengunjung
kini menilai sebuah tempat kuliner secara menyeluruh mulai dari rasa dan harga,
sampai suasana, kenyamanan, kebersihan (termasuk toilet), akses Wi-Fi, area
parkir, hingga bagaimana mereka diperlakukan. Penelitian terbaru saya tentang
loyalitas pelanggan menegaskan bahwa pengalaman subjektif berupa perasaan
tenang, dihargai, atau bermakna saat berada di suatu tempat bisa menjadi
pembeda kuat antara tempat yang dikunjungi sekali dan yang dikunjungi
berkali-kali. Temuan ini selaras dengan kajian akademik tentang experiential
marketing dan value co-creation, yang menekankan pentingnya
merancang pengalaman pelanggan yang konsisten, tulus, dan melibatkan pelanggan
secara bermakna.
Singkatnya: faktor teknis seperti
kebersihan, fasilitas, dan promo itu penting tapi ketika disatukan dengan
suasana yang hangat dan pelayanan yang tulus, dampaknya jauh lebih kuat.
Pengalaman yang “bermakna” yang bisa dilihat dari staf yang ramah atau bukti
bahwa masukan pelanggan ditindaklanjuti membuat pengunjung merasa terikat
secara emosional. Sebaliknya, klaim pengalaman atau keterlibatan pelanggan yang
hanya sekadar slogan tanpa bukti konsistensi malah bisa menurunkan kepercayaan.
Untuk itu saya ingin mengajak pelaku usaha
kuliner melihat dari sisi pelanggan, kira-kira apa saja yang menjadi penilaian
mereka, mari kita ulas bersama yang pertama Suasana dan kenyamanan mulai
dari pencahayaan, musik, kursi yang nyaman, dan tata ruang menentukan betah
atau tidaknya pengunjung. Suasana yang mendukung aktivitas pelanggan sambil bekerja,
ngobrol, santai akan membuat mereka lama tinggal dan merasa dihargai. Kedua Kebersihan,
termasuk toilet ini non-negotiable toilet kotor atau meja lengket
langsung bikin persepsi negatif. Kebersihan konsisten adalah sinyal
profesionalisme, bagaimana pelanggan mau betah dan nyaman dalam kondisi yang
kotor. Ketiga Fasilitas pendukung seperti Wi-Fi stabil, colokan listrik,
dan area parkir yang memudahkan kebutuhan pelanggan akan menambah nilai
tersendiri bagi mereka. Keempat Promo dan diskon ini efektif untuk
menarik kunjungan awal, tapi bukan jaminan loyalitas jangka panjang jika
pengalaman utama mengecewakan. Kelima Program loyalitas dan bukti tindak
lanjut pelanggan suka merasa dihargai. Program poin, voucher ulang tahun,
atau pengakuan terhadap ide pelanggan misalnya menu hasil voting memperkuat
keterikatan dan yang tidak kalah penting adalah Pelayanan dan keramahan staf
sapaan tulus, respon cepat atas keluhan, dan ingat preferensi pelanggan kecil
dampaknya tapi terasa besar. Bisa jadi dari respon yang cepat atas keluhan pelanggan
akan menghadirkan kenyamanan sehingga kecenderungan mereka lebih loyal.
Di dunia kuliner yang penuh pilihan, yang membuat pelanggan datang kembali bukan hanya menu unggulan melainkan pengalaman lengkap yang terasa konsisten dan tulus. Sebagai pelaku usaha, fokuslah pada hal-hal kecil yang mudah diatur mulai dari kebersihan, fasilitas dan SOP tetapi jangan lupakan “jiwa” tempat Anda, anggap setiap perhatian kecil sebagai investasi jangka panjang karena pelanggan yang merasa dihargai biasanya akan datang lagi bercerita ke teman, dan jadi bagian dari cerita tempat Anda.
Senin, 29 Desember 2025
Sederhana, syar’i itu soal batas dan adab dan modis itu soal estetika dan percaya diri. Kalau niat kita baik untuk menutup aurat, menjaga diri, dan tampil rapi karena ingin memberi kesan baik maka kedua hal ini saling mendukung. Ingat, penampilan juga bagian dari dakwah kecil: menunjukkan bahwa menutup aurat bisa elegan dan modern tanpa perlu pamer.
Bagi banyak perempuan muslim, penampilan bukan sekadar pakaian di tubuh tetapi juga representasi nilai, rasa percaya diri, dan identitas. Dalam keseharian, sering kali muncul pertanyaan: apakah mungkin tampil syar’i dengan tetap terlihat modis, anggun, dan relevan dengan tren masa kini? Jawabannya: sangat mungkin. Kuncinya terletak pada pemilihan potongan yang tepat, strategi padu padan, serta kesadaran akan batasan kesopanan yang tetap dijaga.
Outfit
syar’i tidak selalu berarti monoton atau membosankan. Sebaliknya, gaya
yang sopan justru dapat terlihat lebih elegan ketika dirancang dengan niat,
pemahaman bahan, serta pemilihan warna dan aksesori secara bijak. Artikel ini
akan menjadi panduan lengkap bagi Anda yang ingin meningkatkan tampilan tanpa
meninggalkan prinsip kesopanan yang menjadi inti berpakaian syar’i.
Keanggunan Syar’i Dimulai dari Prinsip
Agar gaya tetap dalam batas syar’i namun tetap menarik, ada beberapa prinsip yang perlu dijadikan fondasi.
Tidak Menonjolkan Siluet, pilih potongan longgar yang tidak membentuk tubuh, baik pada gamis, rok, maupun outer. Potongan A-line atau straight cut sangat ideal untuk tampil rapi dan elegan tanpa terlihat ketat. Panjang dan Penutup yang Memadai, outfit yang baik memastikan bagian tubuh tertutup sesuai syariat: panjang rok hingga mata kaki, lengan panjang hingga pergelangan, dan hijab yang menutup dada. Material Berkelas Tanpa Transpransi, bahan seperti crepe matte, katun dobby, dan rayon tebal memberikan kenyamanan sekaligus tekstur visual yang mewah. Jika memilih bahan tipis seperti chiffon, pastikan ada pelapis atau inner yang memadai. Warna dan Detail yang Seimbang, modis bukan berarti ramai. Justru gaya minimalis dengan warna soft tone krem, sage, cokelat, charcoal akan menampilkan kesan anggun, matang, dan tidak berlebihan. Jika ingin warna yang lebih cerah lebih baik memilih motif yang tidak ramai.
Dengan prinsip sederhana ini, fondasi tampilan syar’i yang modis sudah terbentuk. Selanjutnya, permainan styling dapat membantu meningkatkan hasil akhirnya. Kesopanan bukan batasan ia adalah identitas. Ketika berpakaian dengan niat yang baik, pengetahuan yang memadai, dan kesadaran akan estetika, Anda dapat tampil lebih percaya diri dan tetap menjaga prinsip. Gaya syar’i yang modis bukan tentang mencuri perhatian, tetapi tentang menampilkan keteduhan, kecerdasan, dan keanggunan melalui cara yang sederhana.
Rabu, 24 Desember 2025
Semangat kreatif dan ketangguhan pelaku UMKM di Sumatera Utara kembali ditampilkan dalam sebuah rangkaian kegiatan strategis: Pameran Produk UMKM Sumatera Utara yang dipadukan dengan Pelatihan UMKM intensif, hasil kerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Acara ini bukan sekadar pameran, ia dirancang sebagai ekosistem penguatan usaha kecil dan menengah: memajang produk lokal terbaik, membuka akses finansial, serta mendorong kapasitas pemasaran dan digitalisasi pelaku usaha.
Mengapa acara ini penting?
UMKM adalah tulang punggung ekonomi lokal. Meski kreatif dan produktif, banyak pelaku usaha masih menghadapi tantangan nyata: akses pembiayaan yang terhambat, manajemen keuangan yang belum rapi, keterbatasan pemasaran digital, serta masalah pengemasan dan standar mutu. Kolaborasi dengan OJK memberikan dua hal penting: literasi dan akses ke layanan keuangan yang inklusif, serta jaringan dengan institusi keuangan yang dapat menjadi mitra pembiayaan.
Pameran dan pelatihan ini membuka peluang nyata bagi pelaku UMKM Sumatera Utara untuk naik kelas bukan hanya dari sisi omzet, tetapi juga profesionalisme pengelolaan usaha dan akses pembiayaan. Dengan dukungan OJK, langkah menuju inklusi keuangan dan pembangunan ekonomi daerah menjadi lebih terarah. acara ini dilaksanakan di Auditorium di Medan Centre Point Mall.
Sabtu, 20 Desember 2025
Tahun 2025 saya kenang sebagai salah satu tahun paling bermakna dalam hidup saya. Pada tahun inilah Allah memberi saya kesempatan untuk menuntaskan pendidikan doktor di Program Studi S3 Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Sumatera Utara. Proses panjang yang dilalui penuh dengan doa dan harapan, akhirnya bermuara pada satu titik: rasa syukur.
Saya berhasil mempertahankan disertasi berjudul "Pengembangan Loyalitas Konsumen: Analisis Strategi Pemasaran Islami Berbasis Pengalaman pada Kuliner Legendaris di Kota Medan". Bagi saya, disertasi ini bukan sekadar kerja akademik, tetapi juga refleksi atas ketertarikan saya pada praktik ekonomi syariah yang hidup di tengah masyarakat, khususnya pada usaha kuliner yang telah menjadi bagian dari identitas dan memori kolektif Kota Medan.
Di balik capaian ini, ada banyak tangan dan hati yang bekerja untuk saya. Orang tua, anak-anak, dan keluarga selalu menjadi sumber doa dan kekuatan yang tak pernah putus. Namun, secara khusus, saya ingin menyebut sosok yang paling dekat dalam setiap proses ini: suami saya, Prof. Syukri Albani Nasution. Ia bukan hanya pendamping hidup, tetapi juga rekan intelektual yang setia—yang menguatkan ketika lelah, mengingatkan ketika goyah, dan selalu memberi ruang bagi saya untuk tumbuh. Terimakasih Imam dunia akiratku. Teruslah tampan dan setia.
Saya juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Prof. Nur Hayati, Rektor UIN Sumatera Utara, dan Prof. Azhari Akmal Tarigan, yang dalam kapasitasnya turut memberikan dukungan dan perhatian terhadap iklim akademik yang kondusif selama proses studi saya berlangsung. Dukungan institusional dan suasana akademik yang sehat adalah bagian penting dari keberhasilan ini.
Penghargaan dan terima kasih yang mendalam saya sampaikan kepada seluruh tim penguji dan pembimbing disertasi:
Prof. Dr. Bahdin Nur Tanjung, SE., MM sebagai penguji eksternal; Prof. Dr. Mustapa Khamal Rokan, MH dan Dr. Nur Ahmadi bi Rahmani, M.Si sebagai penguji internal; serta Prof. Dr. Muhammad Ramadhan, MA selaku promotor dan Dr. Yenni Samri Juliati, MA sebagai ko-promotor.
Bimbingan, kritik, dan arahan ilmiah dari para guru inilah yang menempa disertasi ini menjadi lebih matang dan bertanggung jawab secara akademik.
Kini, setelah satu tahap penting terlewati, saya menyadari bahwa gelar doktor bukanlah titik akhir. Ia adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus belajar, meneliti, mengajar, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas. Semoga pencapaian ini menjadi langkah baru dalam pengabdian intelektual saya, dan semoga setiap ilmu yang diperoleh diberi keberkahan serta nilai guna bagi banyak orang.






.jpeg)
.jpeg)
Social Media
Search