Saya sering bertemu situasi dimana pembeli
merasa sedang bermain harga menawar sampai sekecil-kecilnya tanpa
memikirkan bagaimana itu berdampak pada penjual. Atau datang ke sebuah kafe
bawa makanan dari luar, lalu setelah selesai makan, meninggalkan bungkusnya di
meja tanpa sadar bahwa itu merepotkan staf. Dari pengalaman pribadi dan obrolan
dengan beberapa penjual kecil, saya ingin membagikan pandangan santai tapi
serius tentang etika konsumen — bagaimana kita bisa jadi pembeli yang
cerdas sekaligus beretika.
Kenapa etika konsumen penting?
Konsumen punya hak, tapi juga punya
kewajiban. Di Indonesia, undang-undang dan badan perlindungan konsumen
menegaskan adanya hak dan kewajiban ini jadi konsumsi bukan semata hak tanpa
tanggung jawab. Beberapa
prinsip etika konsumen yang bisa sama-sama kita ulas:
- Sopan ketika menawar, menawar itu wajar sebab itu
bagian dari interaksi pasar. Tapi tujuan menawar bukan menekan keuntungan
penjual sampai tidak masuk akal. Menawar sebaiknya bertujuan menyesuaikan
budget dengan nilai barang, bukan merendahkan penghidupan penjual. Alangkah baiknya tawarlah dengan sopan, jangan menghina, dan
perhatikan reaksi penjual bila penjual tampak keberatan, hentikan negosiasi itu
lebih baik.
-
Deal adalah komitmen, jangan ghosting jika kamu sudah
menawar dan penjual setuju, perlakukan itu sebagai janji. Jika akhirnya batal,
kabari penjual secepatnya. Menunggu tanpa kabar itu merugikan waktu dan usaha
mereka mempersiapkan barang, menahan pembeli lain, dsb. Banyak komunitas
jual-beli online juga menyebutkan etika ini sebagai hal dasar agar transaksi
berjalan sehat.
-
Hormati ruang usaha (kafe/rumah makan), membawa
makanan dari luar ke kafe atau restoran yang menjual makanan biasanya dianggap
tidak etis terutama jika kita tetap memakai meja dan layanan mereka tanpa
berkontribusi secara layak. Bila ada alasan kesehatan atau diet khusus,
komunikasikan ke staf beberapa tempat memberi pengecualian. Tapi secara umum,
kalau mau nongkrong lama, belilah sesuatu dari tempat tersebut atau tanyakan
kebijakan mereka.
-
Buang sampah pada tempatnya, Kalau memang terpaksa
membawa sesuatu dari luar misal, makanan anak pastikan sampahmu dibawa pulang
atau dibuang di tempat yang semestinya jangan meninggalkan sampah di meja
mereka. Itu soal menghargai tenaga kerja dan kebersihan tempat usaha.
- Jangan manfaatkan rating/ulasan untuk memeras, ada kasus di mana pembeli sengaja memberi rating buruk untuk memaksa pengembalian dana atau diskon. Etika konsumen berarti memberi ulasan jujur berdasarkan pengalaman bukan alat pemerasan. Hal ini berpotensi merusak kepercayaan pasar.
Kalau kita tarik ke kehidupan sehari-hari, etika konsumen itu sebenarnya sederhana dan sangat manusiawi. Saat menawar misalnya, kita bisa memulainya dari angka yang masih masuk akal sambil menyampaikan alasan singkat dengan nada yang ramah entah karena keterbatasan budget atau kondisi barang yang kita pertimbangkan. Menawar tidak harus terasa seperti adu kekuatan, tapi lebih sebagai percakapan untuk mencari titik temu yang adil bagi kedua belah pihak. Ketika sudah terjadi kesepakatan, sebaiknya kita menepati komitmen itu dengan mengonfirmasi waktu pengambilan atau pengiriman, dan segera memberi kabar jika ada perubahan rencana. Hal-hal kecil seperti ini sangat berarti bagi penjual karena menyangkut waktu dan penghasilan mereka.
Hal kecil lain yang sering luput dari perhatian kita adalah soal merapikan meja. Memang, ini bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita sebagai konsumen. Namun, alangkah baiknya jika kita bisa sedikit memudahkan urusan orang lain dengan merapikan meja sebelum pergi. Saya, Insya Allah, akan terus berusaha konsisten setiap kali selesai makan merapikan piring, menumpuknya dengan rapi, lalu menyeka meja dengan tisu. Sekilas memang tampak remeh, tetapi gerakan kecil ini sering kali membuat pelayan tersenyum dan memudahkan mereka membersihkan meja dengan lebih cepat. Bagi saya, inilah bentuk penghargaan sederhana atas pekerjaan mereka dan lewat kebiasaan kecil ini pula, saya ingin mengajak kita semua untuk lebih peka karena hal-hal kecil bisa jadi terasa berarti besar bagi orang lain.
Mari jadi konsumen yang etis, bukan
soal selalu membayar harga penuh atau tidak pernah menawar. Ini soal menghormati
manusia di balik transaksi penjual yang mencari nafkah, pelayan yang
menjaga kebersihan, dan komunitas pasar yang bergantung pada kepercayaan
bersama. Kita bisa hemat tanpa harus merendahkan orang lain kita bisa pintar
tanpa harus menjadi tidak adil. Pada akhirnya, semua ini kembali pada satu hal “memperlakukan
orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan”.

Posting Komentar