Menjelang magrib di bulan Ramadan, pemandangan yang sering terlihat adalah motor berhenti mendadak di pinggir jalan, mobil parkir setengah badan memakan jalur, dan lampu sein menyala lama seolah jadi “izin” untuk berhenti di mana saja. Niatnya cuma beli takjil lima menit, tapi lima menit itu kalau dikali puluhan orang jadilah antrean panjang. Jalan yang biasanya lancar berubah padat, klakson bersahut-sahutan, bahkan ada yang terpaksa melawan arah karena ruangnya sudah tertutup kendaraan yang parkir sembarangan.
Fenomena ini
menunjukkan bagaimana disiplin bisa sedikit meleset saat suasana sedang ramai.
Semua merasa sedang buru-buru ingin cepat sampai rumah untuk berbuka, ingin
dapat takjil favorit sebelum habis. Tapi tanpa sadar, berhenti sembarangan di
bahu jalan atau tepat di tikungan justru mengganggu banyak orang. Pejalan kaki
kehilangan ruang, pengendara lain harus memperlambat laju, dan risiko
kecelakaan meningkat. Ramadan yang seharusnya identik dengan kesabaran malah
diuji di jalanan.
Di sinilah kita
diingatkan bahwa berkah tidak hanya soal rezeki, tapi juga soal tertib dan
empati. Mencari takjil boleh, membuka usaha silakan, tetapi tetap dengan
kesadaran bahwa ruang publik adalah milik bersama. Sedikit disiplin parkir
lebih rapi, mau berjalan beberapa langkah, atau tidak berhenti di titik rawan bisa
membuat Ramadan tetap hangat tanpa harus diwarnai kemacetan dan emosi di jalan.

Posting Komentar